Taman Pendidikan Al-Qur'an
Saat ini metode belajar membaca Alquran sudah semakin berkembang, salah satu metode belajar membaca Alquran yang paling umum di Indonesia adalah dengan menggunakan metode Iqra.

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan metode belajar membaca Alquran yang satu ini. Metode Iqro' sendiri merupakan sebuah metode belajar membaca Alquran yang langsung menekankan untuk mengenal huruf-huruf arab (hijaiyah) dan sekaligus latihan membaca.
Di awal tahun sembilan puluhan (1990) ada usaha untuk mempromosikan cara membaca Alqur'an (tulisan arab) dengan metode Iqro pada bulan ramadhon di sore hari yang dilaksanakan di masjid Jami'At-Taqwa Ajibarang. Namun kegiatan itu tidak berlangsung lama hanya berjalan di bulan romadhon.
Perlu diketahui tahun-tahun ini kegiatan atau aktifias pelajar di sekolah tidak diperkenankan lagi selain Osis. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berganti nama dengan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) entah apa artinya remaja dengan pemuda atau NA belum lagi di organisasi seperti IPNU dan IPPNU Ikatan atau n Pelajar Putra/Putri berganti nama dengan pemuda dan pemudi2 apa bedanya dengan anshor dan fatayat.
Untuk mensiasati keadaan situasi tersebut para pelajar dan kebetulan untuk mahasiswa tidak ada perubahan, maka beberapa anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang ada di Ajibarang mengadakan pengajian di Masjid Taqwa untuk mendirikan Taman Pendidikan Al-Quran. Perkembangan TPA At-Taqwa berjalan sangat cepat sistematis dan terorganisir. Dibeberapa kesempatan para ustadz-ustadzah mengikuti pelatihan di kota Yogyakart dan kota lainnya guna menunjang KBM Taman Pendidikan Al-Qur'an. Badan Koordinasi TPA terbentuk sebagai sarana komunikasi (silaturahmi) antar Pengajar/pendidik Taman Pendidikan Al-Qur'am. Meliputi daerah Ajibarang, Cilongok, Pekuncen, Gumelar dan Brebes Selatan. Komunikasi dengan Pusat TPA yakni kota Yogyakarta sangat intensif, bukan saja dalam pelatihan tapi pengadaan sarana serta seragam TPA-pun didatangkan dari kota Yogyakarta.
Antusia masyarakat Ajibarang sangat mendukung maka berbondong-bondonglah para orang tua/wali kebanyakan ibu-ibu mendaftara putra putrinya dan banyak pula yang menunggui dikala anak-anak (santri) belajar.
Sungguh mulia para ustadz/ustadzah tanpa mengharap upah atau jasa mereka mengajarkan mendidikan para santri dengan penuh keikhlasan. Sampa pada saat Wisuda ada salah satu wali santi seorang ibu menangis terharu dan menangis setelah mendengar para ustadz-ustadzah tanpa mengharap honor, upah apalagi gaji pada setiap bulannya. Dalam penuturan sambutannya beliau mengikhlaskan memberikan shodaqoh sebagai donatur tetap setiap bulannya. Memang anggaran pembiayaan operasional TPA AT-Taqwa dari iuran para santri dengan nilai rupiah sangat kecil saat itu. Memang telah berjalan disamping dari infaq santri TPA mencari dana tambahan dari para donatur yang setiap bulan ditarik dengan nilai nominal yang beragam guna menutup kebutuhan pengelaran.
Alhamdulillah telah TPA At-Taqwa masih berjalan sampai sekarang telah menelorkan para ustadz ustadzah dan para santri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar