Minggu, 10 April 2016

Masjid Jami' AT-Taqwa menjadi Basecamp AMM Era 80-an

Pelajar Islam Indonesia (PII)
Dalam kefakuman inilah   Pelajar Islam Indonesia (PII)  di akhri tahun 70-an  ada utusan dari PD PII Banyumas  yang bersilaturahmi ke rumah Bapak Chusairi Irsyad. Dalam kunjungan itu perwakilan PII mengobarkan semangat  ntuk  Pelajar Islam Indonesi bangkit lagi. Tak butuh waktu panjang Bapak Chusairi memanggil 2 (dua) pemuda untuk membentuk organasasi PII yang selama ini fakum.  Kefakuman ini sebenarnya dirasakan

oleh  Pemuda Muhammadiyah juga. Alhamdulilah setelah  terbentuknya Pengurus PII Cabang Ajibarang bisa diterima oleh  pelajar Ajibarang.  Pusat kegiatan dan sekaligus sebagai pusat gendu-gendu rasa Masjid Jami'lah pilihan tepat.  Kegiatan  pengkajian Ahad pagi,  Training Center (TC) dan pengkaderan  yang diadakan Ajibarang, Purwokerto, Purbalingga sering kali utusan dari PII Cabang Ajibarang ikut di dalamnya. Entah berapa anak dan siapa saja penulis udah lupa.

Ikatan Pelajar  Muhammadiyah (IPM)
Selang beberapa tahun  di awal tahun 80-an datanglah utusan dari Pimpinan IPM Daerah Banyumas dengan membawa Surat Perihal Untuk segera dibentuk  Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah Ajibarang. Kematangan dan pengkaderan yang telah dibentuk oleh Pelajar Islam Indonesia membawanya  untuk menangani Organisasi Otonom Muhammadiyah yakni IPM.  Mengingat kebanyakan dari pengurus PII adalah pemuda dan pemudi Muhammadiyah maka tanpa syarat personil  PII menjadi pengurus IPM hanya ada beberapa orang anak yang tidak masuk karena  dari ormas lainnya. Sebagai Base Camp Masjid Jami'  di malam hari termpt berkumpul para aktifis IPM. Sambil menunggu Bapak Abdullah Mukhsin yang setiap malam istiqomah mengerjakan sholat tahajud (qiyamul laili) pada pukul  02.00 dini hari   berjamaah bersamanya. Dimana pada sore hari berkumpul di rumah Bapak Harun Yusufi untuk berdiskusi  ataupun mengupas menelaah kajian  makalah yang dibuat oleh para sarjana yang ada pada saat itu. Tidak ketinggalan pula belajar Bahasa Arab  yang dipandu oleh Bapak Abdullah Mukhsin.

Pada tahun-tahun inilah saat-saat Pemerintah Orde Baru  mulai mencengkeram, pasang seribu mata untuk mengawasi kegiatan  pemuda, organisasi masa yang agar  loyal pada pemerintah. Tak terkecuali di desa kecamatan yang kecil ini  Pembentukan Kepengurusan Pemuda Muhammadiyah  yang telah diadakan  dalam  Musyawarah Pemuda Muhammadiyah Cabang  Ajibarang ternyata diacak-acak nama-nama anak yang tidak seafiliasi dengan pemerintah maksudnya bukan dari Golongan Karya. Protespun dilancarkan tapi apalah gunanya guna melindungi segenap aktifitas gerakan organisasi  maka harus dirubah demikian jawaban dari Ketua Muhammadiya Cabang Ajibarang (istilah PMC 80-an).

Mulailah bergolak aktifis IPM yang telah menyerahkan kepemimpinan kepada yang lebih muda dalam beberapa periode  kini  telah  menjadi Pemuda Muhammadiyah  yang tidak diakui oleh pimpinan di atasnya. Maka terbentuklah  gerakan pengajian Remaja Masjid yang dipakai saat itu dengan nama  Remaja Islam (ReI) sebagai payung organisasinya adalah "Angkatan Muda Muhamamdiyah" yang bisa membawahi organisasi otonom Muhammadiyah seperti IPM. Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah (NA).  Adanya beberapa nama kelompok  Remaja Islam Kauman (Remika), Remaja Masjid Miftahul Huda blok PDAM (Remifda), Remaja Generasi Nurrohmah  (Reigen),  Remaja Mushola 'Aisyiyah (Rima), Remaja Al'amin, Remaja Al-Mukhsinun, Remaja A. Yani.  Bermacam kegiatan seperti pengajian rutin malam Ahad secara bergilir di setiap mushola  yang tergabung dalam Remaja Masjid.  Silaturahmi Lebaran 'Idul Fitri, Pengajian Akbar dalam hari-hari besar Islam, Pertandaingan dan lomba  dibeberapa kesempatan, Kegiatan rutin tahunan di waktu liburan sekolah mengadakan "Kemah AMM" , pada awal kegiatan  ditempatkan di daerah Pantai Ayah (Logending),  di Keduangung (Winduaji), Gumelar, Curug Cipendok, Batur  Dieng dan beberapa tempat lain penulis sendiri sudah jatuh sakit jadi tidak aktif lagi dalam kegiatan tersebut (th. 1987).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar