Pelajar Islam Indonesia (PII)Dalam kefakuman inilah Pelajar Islam Indonesia (PII) di akhri tahun 70-an ada utusan dari PD PII Banyumas yang bersilaturahmi ke rumah Bapak Chusairi Irsyad. Dalam kunjungan itu perwakilan PII mengobarkan semangat ntuk Pelajar Islam Indonesi bangkit lagi. Tak butuh waktu panjang Bapak Chusairi memanggil 2 (dua) pemuda untuk membentuk organasasi PII yang selama ini fakum. Kefakuman ini sebenarnya dirasakan
oleh Pemuda Muhammadiyah juga. Alhamdulilah setelah terbentuknya Pengurus PII Cabang Ajibarang bisa diterima oleh pelajar Ajibarang. Pusat kegiatan dan sekaligus sebagai pusat gendu-gendu rasa Masjid Jami'lah pilihan tepat. Kegiatan pengkajian Ahad pagi, Training Center (TC) dan pengkaderan yang diadakan Ajibarang, Purwokerto, Purbalingga sering kali utusan dari PII Cabang Ajibarang ikut di dalamnya. Entah berapa anak dan siapa saja penulis udah lupa.
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)Selang beberapa tahun di awal tahun 80-an datanglah utusan dari Pimpinan IPM Daerah Banyumas dengan membawa Surat Perihal Untuk segera dibentuk Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah Ajibarang. Kematangan dan pengkaderan yang telah dibentuk oleh Pelajar Islam Indonesia membawanya untuk menangani Organisasi Otonom Muhammadiyah yakni IPM. Mengingat kebanyakan dari pengurus PII adalah pemuda dan pemudi Muhammadiyah maka tanpa syarat personil PII menjadi pengurus IPM hanya ada beberapa orang anak yang tidak masuk karena dari ormas lainnya. Sebagai Base Camp Masjid Jami' di malam hari termpt berkumpul para aktifis IPM. Sambil menunggu Bapak Abdullah Mukhsin yang setiap malam istiqomah mengerjakan sholat tahajud (qiyamul laili) pada pukul 02.00 dini hari berjamaah bersamanya. Dimana pada sore hari berkumpul di rumah Bapak Harun Yusufi untuk berdiskusi ataupun mengupas menelaah kajian makalah yang dibuat oleh para sarjana yang ada pada saat itu. Tidak ketinggalan pula belajar Bahasa Arab yang dipandu oleh Bapak Abdullah Mukhsin.
Pada tahun-tahun inilah saat-saat Pemerintah Orde Baru mulai mencengkeram, pasang seribu mata untuk mengawasi kegiatan pemuda, organisasi masa yang agar loyal pada pemerintah. Tak terkecuali di desa kecamatan yang kecil ini Pembentukan Kepengurusan Pemuda Muhammadiyah yang telah diadakan dalam Musyawarah Pemuda Muhammadiyah Cabang Ajibarang ternyata diacak-acak nama-nama anak yang tidak seafiliasi dengan pemerintah maksudnya bukan dari Golongan Karya. Protespun dilancarkan tapi apalah gunanya guna melindungi segenap aktifitas gerakan organisasi maka harus dirubah demikian jawaban dari Ketua Muhammadiya Cabang Ajibarang (istilah PMC 80-an).
Mulailah bergolak aktifis IPM yang telah menyerahkan kepemimpinan kepada yang lebih muda dalam beberapa periode kini telah menjadi Pemuda Muhammadiyah yang tidak diakui oleh pimpinan di atasnya. Maka terbentuklah gerakan pengajian Remaja Masjid yang dipakai saat itu dengan nama Remaja Islam (ReI) sebagai payung organisasinya adalah "Angkatan Muda Muhamamdiyah" yang bisa membawahi organisasi otonom Muhammadiyah seperti IPM. Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah (NA). Adanya beberapa nama kelompok Remaja Islam Kauman (Remika), Remaja Masjid Miftahul Huda blok PDAM (Remifda), Remaja Generasi Nurrohmah (Reigen), Remaja Mushola 'Aisyiyah (Rima), Remaja Al'amin, Remaja Al-Mukhsinun, Remaja A. Yani. Bermacam kegiatan seperti pengajian rutin malam Ahad secara bergilir di setiap mushola yang tergabung dalam Remaja Masjid. Silaturahmi Lebaran 'Idul Fitri, Pengajian Akbar dalam hari-hari besar Islam, Pertandaingan dan lomba dibeberapa kesempatan, Kegiatan rutin tahunan di waktu liburan sekolah mengadakan "Kemah AMM" , pada awal kegiatan ditempatkan di daerah Pantai Ayah (Logending), di Keduangung (Winduaji), Gumelar, Curug Cipendok, Batur Dieng dan beberapa tempat lain penulis sendiri sudah jatuh sakit jadi tidak aktif lagi dalam kegiatan tersebut (th. 1987).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar