Pergerakan Pemuda Muhammadiyah dan Muhammadiyah tetap gigih dalam berdawah, apalagi sekalasi politik nasional saat itu sedang memanas. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ingin menguasai Indonesia dengan dukungan Pekin (Cina) membuat segenap rakyat Indonesia bergerak untuk menolak PKI. Di tahun-tahun kegiatan pemuda baik dari Pemuda Muhammadiyah dengan Kokamnya, GP Anshor dengan Bansernya, Gerakan Pemuda Nasional Indonesia, Barisan Tani, Pemuda PKI ramai berlomba-lomba dalam menggalang tuk berbaris. Genderang perang ditahuh seiringan bunyi drumband yang beraneka warna seragam dan kegagahannya. Kokam (Pemuda Muhammadiyah) dengan biru kuning Bapak Imam Subekti Fadah sebagai mayoret, Harun Yusufi pemukul Bas (bedug) bangga dan gagah dengan kulit harimaunya dipungungnya. GP Anshor dan Fatayat berseragam Hijau putih gagah dan cantik dengan mayoret Mba Mus (putra bpk. Jusuf) dengan lincahnya. Pakaian hitam-hitam dari PNI dengan kabaret merah, dan PKI dengan seragama merah menyala. Meriah menakutkan lagi mencengkam kenapa? semua peserta pawai dengan wajah yang garang tak ada senyum apalagi ketawa.
Di setiap malam suasana mencengkam menyelimuti masyarakat Ajibarang, banyak cerita burung bahwa setiap waktu maghrib di daerah sana (tak tahulah pokoknya sana) ada orang meminta-minta dengan menjulurkan tangan tanpa badan. Hiiiih serem ceritanya tak pelak masyarakat saat itu di malam hari kunci pintu rapat-rapat. Belum lagi cerita pocong dan lain sebagainya.
Rencana Kuburan Massal para Tokoh Islam Ajibarang
Menurut cerita di sebelah utara masjid Jami' At-Taqwa Ajibarang tepatnya di pekarang rumah Mbah Sariyah (keluarga yang mewakafkan masjid) ada azimat yang dipendam di dalam rumahnya. Keyakinan seperti itu didasarkan pada wangsit seseorang yang tiba-tiba datang memberi khabar bahwa azimat itu adanya. Azimat itu sangat berharga bila barang itu diuangkan. Mendengar berita seperti itu sang tuan rumah sangat antusias untuk digali dan diambil azimatnya. Lebih-lebih tamu yang tak diundang itu sanggup untuk membiayai dalam penggalian. Tak begitu lama yang jelas memang nggak pakai lama penggalian dimulai dari kamar tengah sebelah barat. Setiap hari penulis bermain dan melihat penggalian yang dikerjakan oleh kaki Rastaji orang Cibangkon sebagai pekerja serabutan. Dalam penggalian setinggi kurang lebih 3 meter sampai orang itu harus menurun dan menaiki tangga sedangkan lebar satu kamar. Hari berikutnya menggali kamar depan katanya azimat itu tidak diketemukan, demikian berlangsung lama entah berapa hari sampai penggalian sudah satu rumah penuh dan rumahpun sudah menggunakan tiang penyangga tambahan mengingat hanya rumah bambu (papan).
Tak ada rasa curiga tak ada rasa takut memang orang yang punya rumah masih suka hal-hal mistik. Masyarkat sekitarpun tak menaruh curiga. Bahkan setiap kali berangkat atau pulang dari pasar maupun dari masjid orang-orang menengoknya dan bercerita di sekitar galian.
Yang penulis denger banyak orang bercerita, Gestok yakni Gerakan Satu Oktober dimana akan perayaan apa perhelatan Akbar dari PKI di seluruh Indonesi bisa digagalkan dengan adanya terbunuhnya para jendral revoluis di Jakarta dan tempat lainnya atau yang disebut G30SPKI. Di Ajibarang banyak tokoh sentral baik dari kalangan Muhammadiyah dan kalangan Nahdatul 'Ulama yang sudah masuk dalam rencana pembunuhan dengan ditandai pintu rumah-rumahnya dengan tanda merah. Rencana pembunuhan para tokoh Islam Ajibarang yang akan dikubur secara masal di penggalian rumah Mbah Sariyah. Syukur alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah swt bahwa tokoh-tokoh Islam Ajibarang selamat dari perencanaan pembunah yang dilakukan oleh orang-orang PKI.
Awal Orde Baru Kepimpinan Nasional Soeharto
Pemuda
Muhmmadiyah menjadikan Masjid Jami' menjadi Base Camp untuk
mengatur aktifitas keorganisasian saat itu. Pemuda dan Pemudi
Angkatan Muda Muhammadiyah aktif mengadakan pengajian ke desa-desa
saat itu belum terbentuk ranting. Kunjungan atau disebut Turun ke Bawah
(Turba) Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah bersama-sama
menggalang kekuatan untuk melebarkan sayapnya,
Kesenian di saat tahun-tahun ini akhir tahun 60-an (1967-1970) ramailah muncul group musik (band) dan orkes melayu Tunas Melati, Melati jadi brand untuk nama group musik Ajibarang. Kegiatan Malam Amal Pemuda Muhammadiyah bekerjasama dengan IPM dan Nasyiatul 'Aisyiyah sering . diadakan Dengan agenda hiburan kesenian mulai tari-tarian, drama (teater), komedi sebai Gong Pamungkas dengan personil Bapak Kasid, Bapak Sumantri Fadah, Bapak Chusairi Irsyad yang mengocok perut bekal untuk mimpi indah. Kegiatan ini sudah banyak menggunakan gedung SMP Muhammadiyah untuk kegiatan dan pertemuan Panitia masih di Masjid At-Taqwa Ajibarng.
Kesenian di saat tahun-tahun ini akhir tahun 60-an (1967-1970) ramailah muncul group musik (band) dan orkes melayu Tunas Melati, Melati jadi brand untuk nama group musik Ajibarang. Kegiatan Malam Amal Pemuda Muhammadiyah bekerjasama dengan IPM dan Nasyiatul 'Aisyiyah sering . diadakan Dengan agenda hiburan kesenian mulai tari-tarian, drama (teater), komedi sebai Gong Pamungkas dengan personil Bapak Kasid, Bapak Sumantri Fadah, Bapak Chusairi Irsyad yang mengocok perut bekal untuk mimpi indah. Kegiatan ini sudah banyak menggunakan gedung SMP Muhammadiyah untuk kegiatan dan pertemuan Panitia masih di Masjid At-Taqwa Ajibarng.
Tumbanglah Orde Lama hadirlah Mayjen Soehatto yang merupakan kader Muhammadiyah menjadi Presiden menggantikan Soekarno. Warga Muhammadiyah terasa dininabobokan sehingga ditahun 1967 s.d 1980 tak ada gerakan apa-apa teruma yang saya lihat di Ajibarang. Beda waktu akan munculnya G302SPKI gegap gempita gerakan pemuda terutama di Ajibarang dan di seantero negeri ini ramai.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori dengan judul Masjid At-Taqwa Di Masa Prolog G30SPKI. Jika kamu suka, jangan lupa like dan bagikan keteman-temanmu ya... By : MASJID JAMI' AT-TAQWA AJIBARANG
Ditulis oleh:
Unknown - Minggu, 10 April 2016

Belum ada komentar untuk "Masjid At-Taqwa Di Masa Prolog G30SPKI"
Posting Komentar