Minggu, 10 April 2016

Masjid Jami' Ajibarang Di Masa Penjajah Belanda


Penjajah Kolonial Belanda 

Masa penjajah Kolonial Belanda Ajibarang merupakan tempat pertahanan  dan persinggahan para Pejabat Belanda.  Gedung-gedung tua peninggalan Belanda  banyal terdapt di Ajibarang. Gedung Polisi Belanda yang disebut Duth Police (DP) yang sekarang menjadi gedung dinas Direktur BRI Cabang Ajibarang yang telah direnofasi. Kantor Pos, Kantor Pegadaian, Gedung Sekolah Kedung Kecamatan dan gedung  milik penduduk   berarsitektur Belanda  tetap di sebelah selatan masjid Jam' Ajibarang yang sering digunakan untuk menjamu atau berpesta pora para Walondo  pada saat itu.

Masjid Jami' Ajibarang yang dikenal saat itu sebagai pusat ke-naiban (KUA) sebagai pusat  kegiatan Islam. Disinilah para da'i, mubaligh mubalighat  datang dan pergi.  Para dai dari luar Ajibarang banyak memberi pembelajaran pada   orang-orang Ajibarang. Dai atau  disebuh Kyai yang termashur untuk ditimba ilmu  adalah Bapak Kyai Jawahir  yang bertempat tinggal di belakang Pasar Ajibarang atau persis di belakang rumah Mbah Eyang H. Abdul Qadir. Demikian juga Mbah Eyang Abdul Qadir yang datang dari kota Kebumen dan berniaga menjual dagangan berupa kain batik, tenun dan pengusaha delman  yang berjualan di utara masjid Jami'. Dibelakang masjid tempat tinggal  Mbah Eyang Mujeni sebagai  penghulu, demikian pula tokoh-tokoh lain seperti Mbah Eyang Sobari. Semua beraktitas beribadah di Masjid Jami' Ajibarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar