Penjajah Kolonial Belanda
Masa penjajah Kolonial Belanda Ajibarang merupakan tempat pertahanan dan persinggahan para Pejabat Belanda. Gedung-gedung tua peninggalan Belanda banyal terdapt di Ajibarang. Gedung Polisi Belanda yang disebut Duth Police (DP) yang sekarang menjadi gedung dinas Direktur BRI Cabang Ajibarang yang telah direnofasi. Kantor Pos, Kantor Pegadaian, Gedung Sekolah Kedung Kecamatan dan gedung milik penduduk berarsitektur Belanda tetap di sebelah selatan masjid Jam' Ajibarang yang sering digunakan untuk menjamu atau berpesta pora para Walondo pada saat itu.
Masjid Jami' Ajibarang yang dikenal saat itu sebagai pusat ke-naiban (KUA) sebagai pusat kegiatan Islam. Disinilah para da'i, mubaligh mubalighat datang dan pergi. Para dai dari luar Ajibarang banyak memberi pembelajaran pada orang-orang Ajibarang. Dai atau disebuh Kyai yang termashur untuk ditimba ilmu adalah Bapak Kyai Jawahir yang bertempat tinggal di belakang Pasar Ajibarang atau persis di belakang rumah Mbah Eyang H. Abdul Qadir. Demikian juga Mbah Eyang Abdul Qadir yang datang dari kota Kebumen dan berniaga menjual dagangan berupa kain batik, tenun dan pengusaha delman yang berjualan di utara masjid Jami'. Dibelakang masjid tempat tinggal Mbah Eyang Mujeni sebagai penghulu, demikian pula tokoh-tokoh lain seperti Mbah Eyang Sobari. Semua beraktitas beribadah di Masjid Jami' Ajibarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar