Pusat Komando Pasukan HisbullahDiceritakan oleh ibuku, Pasukan Hisbullah yang merekrut para pemuda Islam Ajibarang berbaris rapi dengan kobaran api semangat "Jihad Fi Sabilillah" dengan menggemakan sura "ALLAHU AKBAR.. ALLAHU AKBAR"... suara yang lantang dikomandani Bapak Kyai Alwi Zaenudin menuju ke medan perang melawan mengusir penjajah walau dengan persenjataan seadanya. Gema takbirpun terus memecahkan bumi Angkasa Ajibarng sampai sayup-sayup tak terdengar tandanya sudah berjalan jauh keluar dari Ajibarang menuju medan laga. Doapun dipanjatkan atas keselematan dan kemenangan yang diperlehnya.
Gema takbir dengan pasukan yang gagah berani, mengatur siasat perang dan mengobarkan jiwa berjihad fi sabilillah masjid Jami' At-Taqwa saksi utamanya. Disinilah para tokoh bersatu padau berkobar semangat untuk menyingkir penjajah dari bumi Indonesi. Walaupun saat itu sudah ada dua organisasi masa yang besar seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul 'Ulama bersatu padu bergerak bersama. Tokoh-tokoh dari Muhamadiyah dan tokoh dari Nahdhatul ' Ulama seperti 3 Serangkai Bapak Kyai Alwi Zaenudin, Bapak Chasbullah, Bapak Hambali yang ketiga tokoh ini juga merupakan pelopor berdirinya NU di Ajibarang, dan pula pernah mengikuti Muktamar NU di Surabanya dengan bersepeda kayu.
Ditemukan Jenazah Komandan Hisbullah
Di saat para masyarakat Ajibarang mengungsi (evakuasi) demikian pula anggota Tentara Hisbullahpun ikut di dalamnya karena kemerdekaan telah diraihnya. Agresi Militer I tahun 1947 Komandan Hisbullah Bapak Kyai Alwi Zaenudin ditangkap di pengungsian dan dibawah Tentara Belanda ke Markas Belanda (sebelah timur PKU Muhammadiyah sekarang) tepatnya rumah Bpk. H. Agus dan Haji Slamet (Heri Purwanto). Disinilah Sang Komandan diikat kedua jempol tangannya dan langsung dibunuh. Menurut keterangan para jongos Belanda (juru masak) kebetulan orang Ajibarang hanya bilang dibunuh dan dikubur di belakan gedung. Selang beberapa tahun saat itu akan dibangunnya rumah warga ditemukan tulang manusia di bagian galian pondasi. Karena tulang manusia akhirnya para pekerja menggali dengan hati-hati untuk diambil semua tulang-tulangnya. Keadan saat itu dalam kondisi membungkuk dan masih menggunakan sabuk serta mengenakan cincin di jari tangannya. Tanpa pikir panjang karena cerita meninggalnya Kyai Alwi sudah melegenda sang pemilik rumah menanyakan pada saudaranya yang kebetulan tidak jauh dari tempat tinggalnya. Gayungpun bersambut hingga akhirnya kumpulah para keluarga adik-adik Kyai Alwi dan memutuskan bahwa benar ini Jenazah Kang Ali jelas kata Bpk. Haji Abdul Latif yang diamini saudara lainnya seperti Bapak Abdul Shomad, BApak Abdul Haris, dan Bapak Khasbullah. Setelah berembug keranga jenazah Kyai Alwi di bawah ke rumah asal (blok Muskhsinun) untuk diberangkatkan ke pemakaman umum Ajibarang Wetan di sandingkan dengan Keluarga Besar H, Abdul Qadir. Sebagai ucapan terima kasih dari Pemerintah Ajibarang telah diabadikan menjadi nama jalan "JLN. ALWI ZAENUDIN" jalan dari Taman Kota ke timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar